SatupenaNews.com | SIMEULUE, ACEH – Keterbatasan air bersih dan belum tersedianya dokter menjadi persoalan serius yang dihadapi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Sinabang, Kabupaten Simeulue, Aceh. Kondisi tersebut mendapat perhatian anggota Komisi XIII DPR RI, Muslim Ayub, saat melakukan kunjungan kerja untuk meninjau pelayanan dan pemenuhan hak dasar warga binaan.
Dalam kunjungannya, Muslim Ayub menerima sejumlah aspirasi dari pengelola lapas, terutama terkait kebutuhan fasilitas kesehatan, sanitasi, dan ketersediaan air bersih.
Legislator dari Daerah Pemilihan Aceh I itu menegaskan bahwa keterbatasan geografis tidak boleh menghambat pemenuhan hak dasar warga binaan.
Ia berkomitmen membawa persoalan tersebut ke pembahasan bersama kementerian dan mitra kerja terkait di tingkat pusat.
Lapas Sinabang Masih Mengandalkan Air dari Sungai
Kepala Lapas Kelas III Sinabang, Nazaryadi, mengungkapkan bahwa keterbatasan air bersih menjadi salah satu kendala utama dalam operasional lapas.
Hingga kini, pihak lapas masih mengandalkan sumber air yang diambil langsung dari sungai untuk mendukung kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena air bersih merupakan kebutuhan mendasar bagi warga binaan dan petugas pemasyarakatan.
Selain untuk kebutuhan sanitasi, ketersediaan air yang memadai juga berperan penting dalam menjaga kebersihan lingkungan, pengolahan makanan, serta kesehatan warga binaan.
Nazaryadi berharap pemerintah memberikan dukungan agar lapas dapat memiliki akses air bersih yang lebih layak dan berkelanjutan.
Belum Memiliki Dokter, Pelayanan Kesehatan Jadi Sorotan
Selain persoalan air bersih, Lapas Sinabang menghadapi keterbatasan tenaga medis.
Nazaryadi menjelaskan bahwa lapas tersebut belum memiliki dokter untuk menunjang pelayanan kesehatan warga binaan.
Kondisi ini menjadi salah satu aspirasi utama yang disampaikan kepada Muslim Ayub.
Menanggapi persoalan tersebut, Muslim Ayub mendorong pemerintah pusat memperhatikan pemerataan layanan kesehatan di lembaga pemasyarakatan, khususnya yang berada di wilayah kepulauan.
Menurutnya, setiap warga binaan berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang layak tanpa memandang lokasi tempat mereka menjalani masa pidana.
Muslim Ayub Tinjau Hunian hingga Dapur Lapas
Dalam kunjungan kerjanya, Muslim Ayub tidak hanya mendengarkan laporan pengelola lapas.
Ia juga meninjau sejumlah fasilitas, mulai dari blok hunian warga binaan, sarana sanitasi, dapur umum, hingga fasilitas pelayanan kesehatan.
Peninjauan tersebut bertujuan melihat secara langsung kondisi pelayanan pemasyarakatan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang perlu mendapat perhatian pemerintah.
Muslim Ayub menegaskan bahwa lembaga pemasyarakatan harus menjalankan fungsi pembinaan secara humanis, aman, dan produktif.
Ia juga mengingatkan pentingnya perlakuan yang adil dan tidak diskriminatif terhadap seluruh warga binaan.
Aspirasi Lapas Sinabang Akan Dibawa ke DPR RI
Setelah menerima berbagai laporan, Muslim Ayub menyatakan akan menindaklanjuti persoalan tersebut melalui rapat bersama mitra kerja terkait di DPR RI.
Ia ingin mendorong penguatan fasilitas dasar, termasuk akses air bersih, sarana kesehatan, dan ketersediaan tenaga medis.
Perhatian khusus juga diperlukan bagi lembaga pemasyarakatan di wilayah kepulauan yang menghadapi tantangan akses dan infrastruktur.
Muslim Ayub berharap koordinasi antara DPR RI dan pemerintah pusat dapat menghasilkan langkah konkret untuk meningkatkan kualitas pelayanan di Lapas Sinabang.
Di Tengah Keterbatasan, Lapas Tetap Jalankan Program Pembinaan
Meski menghadapi sejumlah kendala, Lapas Kelas III Sinabang tetap menjalankan berbagai kegiatan pembinaan bagi warga binaan.
Nazaryadi menjelaskan bahwa program tersebut mencakup pembinaan keagamaan serta kegiatan perkebunan.
Melalui kegiatan perkebunan, pihak lapas memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menanam berbagai komoditas yang hasilnya dapat mendukung kebutuhan dapur warga binaan.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap ketahanan pangan serta pembekalan keterampilan produktif.
Sementara itu, dalam bidang keagamaan, lapas menjalankan kegiatan belajar mengaji selama satu jam setiap hari bagi warga binaan.
Pihak lapas berharap kegiatan tersebut dapat membentuk kedisiplinan, meningkatkan kemampuan, serta memberikan bekal positif ketika warga binaan kembali ke masyarakat.
Letak Geografis Simeulue Jadi Tantangan Pelayanan
Kabupaten Simeulue merupakan wilayah kepulauan di Provinsi Aceh yang berada di Samudra Hindia, sekitar 180 mil laut dari pesisir barat Pulau Sumatra.
Letak geografis tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pemerataan infrastruktur dan penyediaan pelayanan publik, termasuk fasilitas pemasyarakatan.
Karena itu, Muslim Ayub menilai pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap kebutuhan lembaga pemasyarakatan di wilayah kepulauan agar standar pelayanan dasar dapat terpenuhi secara merata.
Pemenuhan Hak Warga Binaan Butuh Langkah Nyata
Kunjungan Muslim Ayub ke Lapas Kelas III Sinabang membuka kembali perhatian terhadap pentingnya pemerataan fasilitas pemasyarakatan, terutama di daerah kepulauan.
Ketersediaan air bersih, tenaga medis, dan fasilitas pembinaan menjadi kebutuhan mendasar yang perlu ditangani agar pelayanan terhadap warga binaan berjalan optimal.
Di sisi lain, program pembinaan yang telah dijalankan pihak lapas tetap membutuhkan dukungan sarana dan prasarana yang memadai.
Komitmen membawa persoalan Lapas Sinabang ke tingkat pusat kini diharapkan berlanjut menjadi langkah nyata, sehingga keterbatasan fasilitas tidak terus menghambat pemenuhan hak dasar warga binaan.
Dengan dukungan pemerintah dan pengawasan DPR RI, Lapas Sinabang diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat fungsi pemasyarakatan sebagai tempat pembinaan yang aman, manusiawi, dan produktif.
(Rls/Red)





















